Sun02182018

Last update04:03:16 AM GMT

alt

PLN tergiur setrum Inalum

alt

PELITAPOS,(Jakarta) - Walaupun PT Indonesia Asahan Aluminiun (Indonesia) telah beralih ke Indonesia sejak 1 November namun, pengalihan asset Inalum sampai saat ini masih terkendala antara Indonesia dengan konsorsium asal Jepang, Nippon Asahan Aluminium Co,Ltd pemegang saham mayoritas.


PT Inalum memiliki beberapa aset potensial, seperti pembangkit listrik, pelabuhan dan peleburan aluminium.

Ditengah krisis listrik PT PLN (Pesero) khususnya di Sumatera Utara, PT PLN berniat mengelola setrum milik Inalum  dari dua pembangkit tenaga hidro yakni PLTA Sigura-gura dan PLTA Tangga (Asahan 2).

PT PLN sudah mewanti-wanti bila pemerintah menyerahkan pengelolaan listrik Asahan. "Kami menunggu keputusan pemerintahlah," kata Dirut PLN, Nur Pamudji, hari ini.

Dua PLTA, yaitu PLTA Siguragura dan PLTA Tangga yang masing-masing memiliki generator sebanyak 4 unit.

Tujuh generator dioperasikan dan satu digunakan sebagai cadangan. Kapasitas kedua PLTA itu sebesar 603 MW, yaitu PLTA Siguragura  yang berkapasitas 286 MW dan PLTA Tangga  (Asahan 2) yang berkapasitas 317 MW. Kedua pembangkit listrik ini dialiri oleh Sungai Asahan.

Menurut Nur, sejak beroperasi dari dulu, Inalum hanya memberikan 45 MW saja ke PLN.  Padahal PLN berharap Inalum member listrik 135 MW.

"Ini agar suplai listrik untuk Sumatera khususnya Sumatera Utara semakin bertambah. Saya berharap, PLN bisa mendapatkan sekitar 135 megawatt dan akan terus bertambah," ujar Nur Pamudji di Jakarta.

Inalum  membangun dan mengoperasikan PLTA yang terdiri dari stasiun pembangkit listrik Siguragura dan Tangga yang terkenal dengan nama Asahan 2 yang terletak di Paritohan, Kabupaten Toba Samosir, Propinsi Sumatera Utara. Stasiun pembangkit ini dioperasikan dengan memanfaatkan air Sungai Asahan yang mengalirkan air danau Toba ke Selat Malaka.

Oleh karena itu, total listrik yang dihasilkan sangat bergantung pada kondisi permukaan air danau Toba. Pembangunan PLTA dimulai pada tanggal 9 Juni 1978. Pembangunan stasiun pembangkit listrik bawah tanah Siguragura dimulai pada tanggal 7 April 1980 dan diresmikan oleh Presiden RI, Soeharto dalam acara peletakan batu pertama yang diselenggarakan dengan tata cara adat Jepang dan tradisi lokal. Pembangunan seluruh PLTA memakan waktu 5 tahun dan diresmikan oleh Wakil Presiden Umar Wirahadikusuma pada tangagl 7 Juni 1983.

Total kapasitas tetap 426 MW dan output puncak 513 MW. Listrik yang dihasilkan digunakan untuk pabrik peleburan aluminium di Kuala Tanjung.

Seperti yang diketahui, berdasarkan perjanjian RI-Jepang pada 7 Juli 1975, kepemilikan Indonesia atas saham Inalum adalah sebesar 41,13 persen, sedangkan Jepang menguasai 58,87 persen saham yang dikelola Konsorsium Nippon Asahan Alumunium (NAA). Konsorsium ini beranggotakan Japan Bank for International Cooperation (JBIC), yang mewakili pemerintah Jepang dan mendapat porsi 50 persen saham. Sisanya dimiliki 12 perusahaan swasta Jepang.

Sampai saat ini kompensasi PT Inalum masih terkendala. Setelah berakhirnya kontrak PT Inalum 31 Oktober 2013, 1 November 2013 PT Inalum dikuasai Indonesia namun, pengambilalihan 100 persen saham Inalum belum terealisasi.

NAA mengajukan nilai aset berdasarkan nilai buku perusahaan yang berada di angka US$ 650 juta. Sedangkan Indonesia berdasarkan hasil audit yang dilakukan BPKP, nilai aset Inalum per 31 Maret 2013 sebesar US$ 453 juta. Namun, BPKP telah melakukan proyeksi atas nilai aset Inlaum per tanggal 31 oktober 2013, yaitu sebesar US$ 558 juta.(wp)

 

alt

alt

alt