Sun10222017

Last update03:01:01 PM GMT

alt

Siksa Paling Ringan di Akhirat

Pelitapos,

إِنَّ النُّعْمَانِ بنِ بَشِيرٍ ، رضي اللَّه عنهما ، قال : سمِعتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، يقول: « إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَاباً يَوْمَ الْقِيامَة لَرَجُلٌ يُوضَعُ في أَخْمَصِ قَدميْهِ جمْرَتَانِ يغْلي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ مَا يَرى أَنَّ أَحداً أَشَدُّ مِنْه عَذَاباً ، وَإِنَّه لأَهْونُهُمْ عذَاباً » متفق عليه

Dari an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

Read more:

Bagaimana Mengetahui Shahabat Nabi

alt

PELITAPOS,--Dan adapun bagaimana cara mengetahui, apakah seseorang adalah shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam atau bukan, maka bisa diketahui dari beberapa hal, yaitu:

Read more:

Dalil Berdo’a Dengan Mengangkat Kedua Telapak Tangan

alt

A. Hukum Berdoa Dengan Mengangkat Kedua Telapak Tangan Terbuka Adalah Sunnah

PELITAPOS - Mengangkat dan membentangkan kedua telapak tangan menghadap ke langit atau ke arah wajah, adalah sunnah dan termasuk salah satu sebab dikabulkannya sebuah doa.

Dalam sebuah hadist yang bersumber dari Abdullah bin Amr bin Ash RA disebutkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم تَلَى قَوْلَ اللهِ تَعاَلَى فِيْ إِبْراَهِيْمَ صلى الله عليه وسلم ( رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيْراً مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِيْ فَإِنَّهُ مِنّيِ – الأية – وَقاَلَ عِيْسَى صلى الله عليه وسلم : إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِباَدُكَ وَإِنْ تَغْفِرْلَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ – فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقاَلَ: اللَّهُمَّ أُمَّتِيْ أُمَّتِيْ- فَبَكَى, فَقاَلَ عَزَّ وَجَلَّ:  ياَ جِبْرِيْلُ إِذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ, فَسَلْهُ ماَ يُبْكِيْكَ؟ فَأَتاَهُ جِبْرِيْل ُفَأَخْبَرَهُ رَسُوْلُ اللهِ بِماَ قاَلَ وَهُوَ أَعْلَمُ, فَقاَلَ اللهُ تَعاَلَى: ياَ جِبْرِيْلُ إِذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ فَقُلْ: إِنَّا سَنُرْضِيْكَ وَلاَ نَسُؤْكَ – رواه مسلم

 دليل الفالحين 2 صحيفة  ٣٣٣ -  ٣٣٤      

Yang artinya:
Sesungguhnya baginda Nabi SAW telah membacakan firman Allah tentang (do’a) Ibrohim AS:“Wahai Rob, sesunguhnya berhala- berhala itu telah menyesatkan banyak sekali manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, sesungguhnya dia adalah termasuk golonganku…(QS.Ibrohim 36) .dan Nabi Isa AS juga telah berdo’a: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa dan Maha Bijaksana” (QS. Al- Maidah 121)….Maka Nabi Muhammad MENGANGKAT KEDUA TANGAN BELIAU seraya bersabda: “ Ummatku- Ummatku” .. maka beliau menangis. Maka Allah berfirman: “Hai Jibril, pergilah kau kepada Muhammad- dan Tuhanmu Maha Tahu. Tanyakan padanya apa yang menyebabkan kamu menangis? Maka Jibril pun datang dan Rasululloh menceriterakan kepada Jibril tentang apa yang telah beliau ucapkan, padahal Allah Maha Tahu- Maka Allah pun berfirman: “Hai Jibril, datanglah kau pada Muhammad dan katakan bahwa Kami (Allah) akan meridhoimu dan tidak akan memberatkanmu”.

HR. Muslim. Hadist no 14 pada kitab Riyadhus Sholihin bab Roja’. Lihat Syarah Dalilul Falihin Juz II/ 333- 334.
Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ حَيِيٌ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِيْ أَنْ يَرُدَّ عَبْدَهُ رَفَعَ يَدَيْه ِصَفْراً خَاِئبَتَيْنِ. رواه الترمذي وابن ماجه عن عمر ابن الخطاب

“Sesungguhnya Tuhanmu Tabaraka wa Ta’ala itu Mahamalu lagi Dermawan. Dia malu jika ada hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya kepadanya, lalu orang itu mengembalikan kedua tangannya dalam keadaan kosong.”-  artinya pasti dikabulkan do’anya jika seseorang berdo’a dengan mengangkat kedua tangannya. [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Umar bin Al-Khathab] Hadits shahih. Dishahihkan Al-Iraqi, Ibnu Hajar, dan Al-Albani*

Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Membentangkan tangan ke langit adalah salah satu adab berdoa yang diharapkan bisa menjadi sebab dikabulkannya sebuah doa.” [Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam I/191]

Imam An-Nawawi berkata, “Sesungguhnya hadits yang menyebutkan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya dalam berdoa dalam banyak kesempatan selain shalat istisqa’ adalah shahih. Dan, haditsnya tak terhitung banyaknya. [Syarh Shahih Muslim VI/190]

Ibnu Hajar Al-Haitami berkata, “Disunnahkan bagi orang yang berdoa untuk mengangkat kedua tangannya dalam berdoa di luar shalat sebagai ittiba’.” [Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra I/252]


Syaikh Bin Baz (tokoh Ulama Saudi) berkata, “Sesungguhnya mengangkat kedua tangan dalam berdoa adalah sunnah dan merupakan salah satu faktor terkabulnya doa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, … (hadits di atas). Dan, hadits-hadits shahih dalam hal ini banyak sekali.” [Majmu' Fatawa XI/178]

B. Memberi Isyarat Dengan Jari Telunjuk Ketika Berdoa Dalam Khutbah

Namun demikian, ada saat di mana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mengangkat tangannya ketika berdoa, yaitu dalam khutbah Jum’at, di mana beliau memberikan isyarat dengan jari telunjuknya ketika berdo’a. Disebutkan dalam hadits shahih,

عن حصين بن عبد الرحمن قال: رَأَيْتُ بِشْرَ بنِ مَرْواَنْ يَوْمَ جُمْعَةٍ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فَقاَلَ عُماَرَةْ بنِ رُؤَيْبَةَ : لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم ماَ يَزِيْدُ عَلَى أَنْ يَقُوْلَ بِيَدِهِ هَكَذاَ – وَأَشاَرَ بِإِصْبَعِهِ \ المُسَبَّحَةِ . رواه مسلم

Dari Hushoin bin Abdurrahman, dia berkata: “Aku melihat Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya pada hari Jum’at (di atas mimbar). Maka, Umarah bin Ruwaibah Ats-Tsaqafi pun menegurnya. Dia (Umarah) berkata; ‘Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah melakukan lebih dari ini’. Dia (Umarah) memberikan isyarat dengan jari telunjuknya.”

[HR. Muslim  no. ٢٠١٤ dan An-Nasa`i dari Umarah Ats-Tsaqafi]

Imam An-Nawawi berkata, “Sesungguhnya yang sunnah adalah hendaknya tidak mengangkat tangan dalam khutbah. Ini adalah pendapat Malik, sahabat-sahabat kami (Syafi’iyyah), dan selain mereka. Al- Qodhi meceriterakan bahwa sebagian ulama salaf dan Malikiyyah menyatakan: boleh, karena Nabi Muhammad SAW mengangkat kedua tangan beliau dalam khutbah Jum’at ketika (sekalian)  memohon hujan. Maka kelompok yang pertama (yang menolak) menyatakan bahwa (ketika Nabi) mengangkat tangan itu karena ada “Suatu Tujuan”( yakni sekalian minta hujan) .” [Syarh Shahih Muslim VI/162]. Secara lengkapnya demikian:

أن السنة أن لا يرفع اليد في الخطبة وهو قول مالك , وأصحابنا (شافعية) وغيرهم. وحكى القاضي عن بعض السلف وبعض المالكية: إباحة لأن النبي سلى الله عليه وسلم رفع يديه في خطبة الجمعة حين إستسقى – وأجاب الأولون بأن هذا الرفع كان لعارض   - شرح صحيح مسلم مجلد  ٦ – ٧  صحيفة ٤٠٠

Imam Al-Haitami (Syafi’iyyah) berkata, “Dan tidak disukai bagi khatib mengangkat kedua tangannya pada waktu khutbah, sebagaimana yang dikatakan Al-baihaqi.” [Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra I/253]

C. Mengangkat Tangan Atau Tidak Dalam Berdo’a Selepas Shalat?

Betapa banyak hadits yang menjelaskan keutamaan berdoa setelah shalat fardhu. Di antaranya, adalah riwayat Abu Umamah Al-Bahili, bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الدعاَءِ أَسْمَعُ إِلَى اللهِ تَعَالىَ؟ قاَلَ: الدُّعاَءُ فِيْ جَوْفِ اللَّيْلِ وَفِيْ دُبُرِ صَلوَاتِ الْمَكْتُوْباَتِ. رواه الترمذي وقال: حديث حسن

“Doa apakah yang paling didengar (oleh Allah)?” Beliau bersabda, “(Doa pada) akhir tengah malam dan selepas shalat wajib.” [HR. At-Tirmidzi] *Dihasankan At-Tirmidzi, An-Nawawi, dan Ibnu Hajar*

Akan tetapi, sebagian ulama menganggap tidak ada satu pun hadits shahih yang menyebutkan bahwa beliau mengangkat kedua tangannya dalam berdoa selepas shalat wajib, seperti halnya tidak adanya PENYANGGAHAN dari Nabi maupun Sahabat tentang itu sebagaimana berdo’a ketika Khutbah yang di sanggah pada hadist Bisyr bin Marwan seperti tersebut diatas. Karena itulah, mereka (para ulama) berbeda pendapat dalam hal ini. Ada yang mengatakan bolehnya mengangkat tangan berdasarkan keumumam hadits mengangkat tangan. Dan ada juga yang mengatakan tidak boleh, dikarenakan Nabi tidak tercatat pernah melakukannya. Sebagaimana halnya bersalaman (mushofahah) ketika selesai sholat, keumuman hadist menyatakan bahwa berjabat tangan itu dianjurkan oleh Nabi dan tidak ada batasan waktu maupun tempat (qoyid), termasuk ketika dilakukan selesai sholat, namun ada pula yang berpendapat sebaliknya karena Nabi tidak tercatat pernah melakukan mushofahah ketika selesai sholat berjama’ah.

Qoidah Ushul Fiqh menyatakan bahwa bila ada suatu pernyataan umum, maka pada kejadian khusus yang tidak dilakukan penyanggahan (Takhshis) yang nyata, berarti pernyataan umum itu berlaku. Pernyataan tentang MENGANGKAT TANGANNYA NABI KETIKA BERDO’A. diakui keabsahannya. Sedang sanggahan yang menyatakan bahwa NABI MELARANG MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDOA SETELAH SHOLAT, ITU TIDAK ADA. Maka mengangkat tangan ketika berdo’a setelah sholat fardhu adalah dapat dibenarkan berdasarkan pernyataan umum dari hadist- hadist tersebut diatas.

DR. Abdullah Al-Faqih berkata, “Sesungguhnya berdoa selepas shalat setelah selesai dari berdzikir itu ada ketetapan syariatnya. Dan, bahwasanya mengangkat kedua tangan dalam berdoa juga disyariatkan. Oleh karena itu, barangsiapa yang berdoa setiap kali selesai shalat dengan mengangkat kedua tangannya, dia tidak boleh disalahkan, sekalipun dia selalu melakukannya.”

Sedangkan para ulama Saudi kontemporer (saat ini) berpendapat bahwa mengangkat tangan ketika berdo’a setelah selesai sholat itu bid’ah, sebagaimana disebutkan dalam fatwa Lajnah Da’imah Saudi, ”Berdoa setelah shalat fardhu bukanlah sunnah jika dilakukan dengan mengangkat kedua tangan, baik itu oleh imam, makmum, maupun semuanya bersama-sama. Bahkan, itu (berdoa dengan mengangkat tangan setelah shalat fardhu) adalah bid’ah. Sebab, hal ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya Radhiyallahu ‘Anhum. Adapun berdoa dengan tanpa mengangkat tangan (selepas shalat wajib), maka itu tidak apa-apa, karena terdapat hadits-hadits dalam hal ini.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, fatwa nomor 3901].

KESIMPULAN:

  1. Ulama sepakat berdo’a dengan mengangangkat tangan itu sunnah berdasarkan contoh dari Nabi Muhammad SAW dengan dasar banyak hadist yang bernilai sohih.

  2. Mengangkat tangan tatkala berdo’a ketika khutbah, kebanyakan Ulama, termasuk Ulama Syafi’iyyah tidak menyukainya, karena adanya hadist sohih yang menyatakan sanggahan salah seorang sahabat tentang itu, sedangkan sahabat lain tidak bereaksi, alias menyetujui sanggahan tersebut. Sebagai ganti mengangkat tangan adalah cukup dengan mengangkat telunjuknya.
  3. Mengangkat tangan tatkala berdo’a seusai sholat fardhu, hukumnya diperselisihkan/ debatable. Ada yang setuju berdasarkan keumuman hadist, ada juga yang menolaknya. Perbedaan ini masih termasuk wilayah ijtihady yang tidak usah dipermasalahkan. Wallohu a’lam. (TAG: Fiqh/ Ibadah)

Oleh: H. Khaeruddin  Khasbullah, dari berbagai sumber
(T)

Jika Orang Kafir Masuk Islam, Bagaimana Status Amalannya Sebelum Masuk Islam?

alt

PELITAPOS,-Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلَامُهُ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ كُلَّ حَسَنَةٍ كَانَ أَزْلَفَهَا وَمُحِيَتْ عَنْهُ كُلُّ سَيِّئَةٍ كَانَ أَزْلَفَهَا ثُمَّ كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرَةِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا إِلَّا أَنْ يَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا

" Jika seorang hamba masuk Islam, dan bagus keislamannya, maka Allah akan (memerintahkan kepada malaikat untuk) menulis semua kebaikan yang pernah dilakukannya, dan dihapuskan darinya semua kejelekan yang pernah dilakukannya. Kemudian setelah itu ada qishash, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus. Sedang keburukan dengan balasan yang sama, kecuali jika Allah mengampuninya."

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasaa'i rahimahullah (2/267-268) dari jalur Shofwan bin Shalih, dia berkata:" Telah mengabarkan kepada kami al-Walid, dia berkata:' Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Zaid bin Aslam dari 'Atha' bin Yasar dari Abu Sa'id al-Khudry radhiyallahu 'anhu berkata:" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:' (Lalu beliau menyebutkan hadits tersebut di atas).'"

Saya berkata:" Dan ia(hadis ini) sanadnya shahih, Imam al-Bukhari mencantumkannya secara mu'alaq dalam kitabnya Shahih al-Bukhari. Lalu beliau berkata:' Malik berkata:' Telah mengabarkan kepadaku Zaid bin Aslam dengan hadits tersebut, namun tanpa penyebutan "penulisan kebaikan". Dan hadits tersebut telah diriwayatkan secara maushul/muththashil (bersambug sanadnya) oleh al-Hasan bin Sufyan, al-Bazzar, al-Isma'ili dan ad-Daruquthni dalam kitab "Ghara'ib Malik" serta al-Baihaqi dalam asy-Syu'ab (Syu'abul Iman) dari jalur-jalur yang lain dari Malik dengan sanad tersebut."

Al-Hafizh (Ibnu Hajar) rahimahullah di dalam Al-Fath (Fathul Bari 1/82) berkata:" Dan telah valid dalam semua riwayat apa yang terluput (tidak tercantum) dari riwayat imam al-Bukhari, yaitu tentang penulisan amalan-amalan baik yang dilakukan sebelum masuk Islam. Dan sabda Nabi: كتب الله (Allah menuliskan) maksudnya adalah, Allah memerintahkan kepada para Malaikat untuk menulisnya. Dan riwayat milik imam ad-Daruquthni dari jalur Zaid bin syu'aib, dari Malik dengan lafazh:


" يقول الله لملائكته اكتبوا "

" Allah berfirman kepada para malaikai-Nya: "Tulislah oleh kalian... "

Lalu ada yang mengatakan:" Sesungguhnya penulis (Al-Bukhari) rahimahullah sengaja tidak mencatumkan apa yang diriwayatkan oleh ulama lainnya, karena kata tersebut memang musykil (problem/membingungkan) menurut kaidah. Al-Mazari berkata:" Orang kafir tidak seperti itu, mereka tidak diberi pahala atas amal shalih yang dikerjakannya pada waktu ia masih syirik. Sebab syarat taqarrub (ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah) adalah hendaknya si pelaku mengetahui kepada siapa amal itu dipersembahkan, dan orang kafir tidak seperti itu. Al-Qadhi 'Iyadh mengikutinya (al-Maziri) dalam menyetujui problem (kebingungan) ini. Namun An-Nawawi menganggapnya lemah, dan beliau rahimahullah berkata:" Yang benar adalah apa yang menjadi pendapat para Muhaqqiq (peneliti) -bahkan sebagian mereka menukil adanya ijma' dalam masalah ini- bahwasanya orang kafir jika melakukan amalan-amalan yang baik, seperti sedekah, silaturahim, kemudian masuk Islam dan mati di atas Islam, maka pahala/balasan semua amal itu dicatat untuknya. Adapun klaim bahwa hal ini menyelisihi kaidah, maka tidak bisa diterima. Sebab, kadangkala sebagian amalan-amalan orang kafir diperhitungkan/dianggap di dunia, seperti kaffaratuzh-zhihar (denda zhihar). Maka ia tidak wajib mengulanginya (membayar kaffarah zhihar) jika telah masuk Islam, dan ia (kaffarat yang dibayarkan ketika masih kafir) telah mencukupinya." sampai di sini perkataan al-Hafizh rahimahullah.

Kemudian Al-Hafizh berkata:" Dan yang benar adalah bahwasanya penulisan pahala untuk seorang muslim (atas amalan yang dilakukan ketika kafir), yang penulisan itu terjadi ketika dia telah masuk Islam -sebagai bentuk karunia dan kebaikan dari Allah- tidak mengharuskan kalau hal itu dikarenakan amalannya yang dilakukan dalam keadaan kafir diterima. Dan hadits ini hanya berisi kandungan tentang penulisan pahala, tidak menyinggung tentang penerimaannya (amalan). Dan bisa jadi diterimanya amalan tersebut dikaitkan (tergantung) pada keislamannya, sehingga ia (amalannya) akan diterima dan diberi pahala jika masuk Islam, jika tidak maka tidak (tidak diterima dan diberi pahala). Dan pendapat ini kuat.

Dan Ibrahim al-Harbi, Ibnu Bathal dan selainnya dari kalangan ulama terdahulu serta al-Qurthubi, dan Ibnul Munir dari kalangan ulama belakangan menyatakan secara tegas/pasti seperti apa yang dinyatakan oleh an-Nawawi rahimahullah.

Ibnul Munir berkata:" Yang menyelisihi kaidah adalah, klaim bahwa ditulis/dicatat hal tersebut (pahala amalan) ketika pelakunya masih dalam keadaan kafir. Dan adapun kalau Allah menambahkan pahala amalan yang dahulu dilakukannya (sebelum masuk Islam) berupa sesuatu (amalan) yang dianggapnya sebagai kebaikan kepada kebaikan-kebaikannya ketika dia Islam maka hal ini tidak mengapa (boleh terjadi). Seperti jika Dia (Allah) memberikan anugerah pahala kepadanya dari awal, tanpa beramal. Juga seperti ketika Allah memberikan karunia kepada orang yang lemah (tidak mampu beramal) dengan memberinya pahala amalan yang biasa dia lakukan ketika dia mampu (melaksanakan amal-amal kebaikan tersebut). Maka, jika boleh terjadi penulisan pahala bagi seseorang padahal dia tidak beramal sama sekali, maka ditulis baginya pahala amalan yang dia kerjakan namun tidak terpenuhi syaratnya tentu boleh terjadi."

Selain itu dia berdalil bahwasanya orang yang beriman dari kalangan Ahli Kitab diberi pahala dua kali, sebagaimana ditunjukkan oleh al-Qur'an dan hadits shahih. Dan kalau dia mati di atas keyakinannya yang pertama, tidak akan bermanfaat sedikitpun amalan shalihnya, akan tetapi ia (amalan shalihnya) menjadi seperti debu yang berterbangan (sia-sia). Maka ini menunjukkan bahwa pahala amalannya yang pertama ditulis untuknya, ditambahkan kepada amalannya yang kedua (setelah masuk Islam).

Dan juga berdalil dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika ditanya oleh 'Aisyah radhiyallahu 'anha tentang Ibnu Jad'an dan apa yang diperbuatnya berupa amalan kebaikan, apakah bermanfaat baginya? Maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:" Sesungguhnya dia tidak satu hari pun pernah mengucapkan:' Ya Rabbku ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan.'" Maka ini menunjukkan bahwa seandainya dia mengucapkannya setelah masuk Islam, niscaya apa yang diamalkannya ketika dia masih dalam keadaan kafir akan bermanfaat baginya."

Saya (Al-Albani rahimahullah) berkata:" Dan ini yang benar, yang tidak boleh ada pendapat yang menyelisihinya dikarenakan banyaknya hadits-hadits yang mendukungnya. Oleh sebab itu as-Sindy rahimahullah berkata dalam catatan kakinya terhadap kitab sunan an-Nasaa'i:' Dan hadits ini menunjukkan bahwa kebaikan-kebaikan orang kafir tertahan, jika ia masuk Islam maka diterima (amalannya), dan jika tidak maka ditolak. Oleh karena itu, maka firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:


(والذين كفروا أعمالهم كسراب) النور 29

" Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana …" (QS. An-Nuur: 39)

Berlaku atau diterapkan untuk orang-orang yang mati dalam keadaan kafir, dan yang zhahir adalah tidak adanya dalil yang menyelisihi hal itu. Dan karunia Allah lebih luas dari ini dan lebih banyak, maka tidak ada sesuatu yang mustahil di dalamnya. Dan hadits tentang keimanan yang menghapus apa-apa yang terjadi sebelumnya adalah dalam masalah dosa-dosa bukan dalam masalah kebaikan.'"

Saya (Al-Albani rahimahullah) berkata:" Dan seperti ayat yang disebutkan oleh as-Sindy rahimahullah adalah ayat-ayat lain yang menjelaskan seputar terhapusnya amalan seseorang disebabkan perbuatan syirik. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:


(وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ) الزمر 65

" Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:"Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi."(QS. Az-Zumar: 65)

Maka semuanya diterapkan kepada orang-orang yang mati dalam keadaan musyrik. Dan di antara dalil yang menunjukkan hal itu adalah firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala:


(وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ)البقرة217.

" …Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah: 217)

 

Dalam hadits ini ada dalil yang jelas bahwasanya orang kafir jika masuk Islam maka amalan shalihnya di masa Jahiliyah (sebelum dia masuk Islam, ed) akan bermanfaat baginya. Berbeda keadaannya jika ia mati di atas kekafirannya, maka ia (amalannya) tidak bermanfaat baginya, bahkan akan hapus disebabkan karena kekafirannya.

(Sumber: Diringkas dan diterjemahkan dari as-Silsihah ash-Shahihah karya asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah hadits 247-249. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono) (A)

Mengetahui Kebaikan Dan Dosa

alt

Pelitapos

عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سِمْعَانَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ. رواه مسلم

Read more: