Sat10212017

Last update03:01:01 PM GMT

alt

SUMATERA

DPRDSU Desak Pihak Berwajib Teliti Penyebab Matinya Ratusan Ton Ikan di Silalahi Danau Toba

alt

Medan (Pelitapos) Kalangan anggota DPRD Sumut mendesak BLH (Badan Lingkungan Hidup) Provsu dan BLH di 7 kabupaten kawasan Danau Toba segera meneliti pencemaran air Danau Toba yang diduga telah meracuni ratusan ton ikan hingga mati mendadak di Desa Silalahi Kecamatan Silahisabungan Kabupaten Dairi, karena kematian ikan tersebut sudah pada tingkat mengkhawatirkan.



"Masalah kematian ikan ratusan ton itu harus segera diteliti agar tidak meluas, karena sebelumnya hal serupa juga sudah terjadi di Desa Bandar Purba Kecamatan Haranggaol Kabupaten Simalungun," ujar anggota DPRD Sumut Dapil (daerah pemilihan) Karo, Dairi dan Pakpak Bharat, Leonard Surungan Samosir SE dan Jenny Riany Lucia Berutu SH kepada wartawan, Kamis (26/5) di gedung dewan terkait ratusan ton ikan mati mendadak di Silalahi Dairi.

Leonard mengatakan, kematian ikan di Danau Toba sudah sangat mengkhawatirkan, karena jumlahnya mencapai ratusan ton diduga akibat air Danau Toba sudah dicemari limbah pakan ikan sehingga harus segera disterilkan pihak instansi yang berwenang.

"Kematian ikan sampai ratusan ton, diduga  karena pencemaran air Danau Toba sudah sangat tinggi dan mengkhawatirkan, sehingga tingkat pencemaran itu harus segera diteliti," ujar Leonard seraya minta 7 Pemkab di kawasan Danau Toba bergerak cepat mengatasi masalah ini, sebelum masyarakat mengalami kerugian  yang lebih besar lagi.

Seperti dinyatakan pakar pencemaran lingkungan, lanjut Leonard yang juga anggota Komisi D itu, pencemaran air Danau Toba akibat tumpukan limbah pakan ikan yang sudah ribuan ton mengendap dari pemberian makan ikan-ikan yang dipelihara menggunakan KJA (kerambah jaring apung) 'raksasa'.

"Limbah pakan ikan KJA yang mengendap bertahun-tahun sudah berubah menjadi racun, sehingga air Danau Toba tercemar.  Kalau ini dibiarkan, bukan hanya ikan-ikan yang mati, tapi juga dapat memusnahkan ekosistem perairan Danau Toba dan jenis ikan yang tidak ada di tempat lain, termasuk ikan Batak dan ikan mujahir asli Danau Toba," ujar Leonard.

Leonard maupun Jenny Berutu meminta BLH Sumut kerjasama dengan BLH 7 kabupaten (Simalungun, Taput, Tobasa, Samosir, Humbahas, Dairi, Karo) kawasan Danau Toba untuk melakukan penelitian. "Jika benar kematian ribuan ton ikan diakibatkan limbah pakan ikan, maka seluruh KJA yang ada di Danau Toba harus dicabut izinnya dan ditutup," tandas kedua anggota dewan dari dapil yang sama ini.

Apalagi, ungkap Jenny yang juga Bendahara FP Demokrat itu, perairan Danau Toba juga dicemari oleh limbah-limbah rumah tangga dan hotel-hotel seperti limbah cair deterjen dan zat kimia lainnya yang langsung dibuang ke Danau Toba.

Karena itu, Jenny berharap Komisi D membidangi masalah limbah dan lingkungan hidup agar proaktif menyikapi masalah kematian ikan mencapai ratusan ton, apakah disebabkan keracunan limbah pakan ikan atau disebabkan hal lain, karena air Danau Toba juga menjadi dikonsumsi masyarakat.

"Jangan-jangan air Danau Toba yang tercemar limbah bisa meracuni orang, karena masyarakat pinggiran Danau Toba memanfaatkan air Danau Toba untuk kebutuhan sehari-hari," tambah Jenny.

Menunggu Hasil Penelitian
Sementara itu, Kadiskanla Sumut H Zonny Waldi melalui telepon, Kamis (26/5) mengatakan, matinya ratusan ton ikan di Desa Silalahi I, II dan III, Silalahisabungan, Dairi belum diketahui penyebabnya, tetapi dugaan sementara karena kurangnya oksigen. Sebab ciri matinya ikan sama dengan keramba jaring apung (KJA) di Kecamatan Haranggaol, Horison, Simalungun baru-baru ini.

"Atas kejadian ini Diskanla sudah melaporkan ke KKP RI dan tim akan bekerja ke lokasi meneliti apa penyebab ribuan ikan itu mati, apakah karena penyakit atau karena faktor alam atau kekurangan oksigen dan hasilnya kami laporkan ke gubernur," jelasnya.

Ke depan, tambah Zonny, petani ikan KJA di seluruh perairan Danau Toba agar mengikuti Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), dimana untuk  KJA ukuran 5X5X5 M, idealnya jumlah ikan 5.000 ekor, tetapi kenyataannya mencapai 10.000-15.000 ekor. Hal seperti itu juga penyebab matinya ikan karena kurangnya oksigen.

"Selain itu tata kelola letak KJA juga diatur, jangan sesuka-suka saja sehingga menghalangi tiupan angin dan mengganggu sirkulasi air dalam KJA," harap Waldi  seraya menyarankan kepada petani KJA, agar membentuk kelompok/koperasi dalam meningkatkan komunikasi internal dan memudahkan pembinaan dari pemerintah.

Belum Ada Lokasi Pembuangan
Terpisah Op Nisi Ngelo Sidebang (61) kepada wartawan, Kamis (26/5) di Silalahi mengatakan matinya ikan sejak Senin malam, disebabkan adanya bau belerang dari dasar air. Sejak Senin hingga Kamis (26/5), kurang lebih lima ratus ton ikan sudah mati yakni ikan mujair dan  ikan mas, mulai dari  ukuran kecil, sedang, hingga hendak dipanen.

"Biasanya satu kotak keramba berisi 5 ribu-8 ribu ekor ikan mujair. Ciri-ciri ikan yang mau mati langsung muncul ke permukaan dengan megap-megap mencari oksigen. Untuk Desa Silalahi I saja, sekitar 200 kotak yang sudah mati yaitu milik Pa Nanda Sidebang, Rudy Sidebang, Princes Sidabutar dan Iwan Simarmata. Bila dijumlahkan per kotaknya bisa mencapai 1,5-1,8 ton. Belum lagi Desa Silalahi II, III, Paropo dan Desa Paropo I," katanya.

Sementara itu, Maruba Sijabat menyebut, sekitar 18 kotak ikannya yang mati mendadak, bila dijumlah sekitar 27 ton dengan harga per kilogram Rp 23.500, sehingga kerugian mencapai Rp 600 juta lebih. Belum lagi biaya pengangkutan bangkai ikan untuk dibuang.

Diharapkan pemerintah membantu petani KJA membuang bangkai ikan itu, misalnya alat berat untuk menggali tanah dan mobil untuk mengangkut bangkai ikan ke lokasi pembuangan.

"Kami kewalahan untuk membuang bangkai ikan yang sampai ratusan ton, tidak tahu hendak ke mana mau dibuang. Memang ada sebagian diminta petani jeruk untuk dijadikan kompos, tapi itu hanya sedikit," sebut Maruba.

Sementara, petani KJA di Desa Paropo mengatakan tidak tahu apa penyebab kematian ikan milik mereka, bahkan isu bau belerang juga mereka tidak mengetahuinya. "Yang jelas kematian ikan tersebut belum tahu apa penyebabnya," cetus warga bermarga Manihuruk itu.

Dinas Pertanian Dairi melalui Kabid Perikan Lamhot Silalahi di Desa Silalahi I mengatakan, belum mengetahui berapa ton jumlah pasti ikan yang mati. 

Untuk sementara kematian ikan tersebut disebabkan kekurangan oksigen. Untuk lebih pastinya, akan dilakukan penelitian lebih lanjut. Oleh sebab itu, kata Lamhot, tim Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah didatangkan dari Jambi dan mereka sudah sampai di Silalahi melakukan pengambilan sampel. Ketepatan mereka di Sumut ini, sehingga sampai lebih cepat.

"Setelah dilakukan pengukuran kualitas air di titik  keramba milik Rudi Hartono Sidebang, ditemukan perbedaan oksigen. Pada titik pertama 3,2 ppm, titik kedua 4,2 ppm dan titik ketiga 3,4 ppm. Idealnya, air memiliki oksigen 5 hingg 7,5 ppm. Namun, pihak BPBAT telah membawa ikan hidup yang akan diperiksa dan diteliti," tambahnya.

Terkait pembuangan ikan, Lamhot menyebut, bukan tugas  mereka. "Kita hanya pelaksana tehnis. Seharusnya Camat Silahisabungan yang melakukan koordinasi dengan dinas terkait dan masyarakat untuk menentukan lokasi pembuangan bangkai ikan. Kendati demikian, kita sudah berkordinasi dengan pihak BPBD Dairi untuk menyediakan truk pengangkutannya," kata Lamhot.

Pantauan di lapangan, sebagian besar petani KJA tidak mau diwawancarai wartawan untuk mengetahui jumlah ikan mereka yang mati. Petani enggan berkomentar dan tidak mengizinkan untuk mengambil gambar dari lokasi keramba mereka. sIB

 

alt

alt

alt