Mon12112017

Last update04:29:21 AM GMT

alt

Walikota Batam Ahmad Dahlan, Lima Tahun Rampungkan Buku Sejarah Melayu

alt

 

Batam,Pelita Pos- Buku Sejarah Melayu karya Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, PhD meraih Anugerah Sagang kategori Anugerah Serantau sempena Anugerah Sagang 2015. Dalam 20 tahun kiprah Anugerah Sagang, kategori ini pernah diberikan kepada Yayasan Panggung Melayu (Jakarta) dan Surya TV (Singapura). Untuk merampungkan buku setebal 665 halaman pada cetakan kedua itu ternyata butuh waktu lima tahun dengan sejumlah kendala.

 

Bakat menulis Ahmad Dahlan berawal dari pendidikan SMA yang ia tekuni di Yogyakarta. Pria kelahiran Batam tahun 1954 ini kemudian tertarik di bidang sejarah saat dirinya diajak belajar lapangan dengan berkunjung ke Candi Prambanan di Klaten, Jawa Tengah. Ia mengaku kagum melihat relief-relief candi yang menceritakan epos Hindu; Ramayana dan Krishnayana.

Relief berkisah ini diukirkan pada dinding sebelah dalam pagar langkan sepanjang lorong galeri yang mengelilingi tiga candi utama. Relief ini dibaca dari kanan ke kiri dengan gerakan searah jarum jam mengitari candi. Setelah selesai sekolah dan kembali ke Batam, ia kemudian mengajak istri dan anak-anaknya untuk berlibur ke candi tersebut tentunya setelah menikah dengan Nyonya Mariana Dahlan.

Darah Melayu yang mengental pada tubuhnya kian menyemangati ayah tiga anak ini untuk mengeksplor sejarah Melayu melalui sebuah buku yang utuh. Pasalnya sejak kecil, Dahlan mengaku tidak menemukan buku tentang sejarah Melayu yang komprehensif.

“Saya lihat kurang sekali data-data serta informasi tentang sejarah Melayu ini padahal kita tinggal di daerah Melayu. Ada yang punya tapi berserak,” ujar Dahlan mengawali pembicaraannya dengan Batam Pos di Kantor Walikota Batam, Senin (19/10) lalu.

Dahlan kemudian memantapkan niatnya untuk merampungkan dokumen-dokumen yang berserak tadi menjadi sebuah buku. Secara perlahan selama lima tahun, ia mengumpulkan literatur baik naskah, buku bahkan turun langsung ke lapangan untuk penelitian kecil-kecilan terkait sejarah Melayu.

Salah satu yang ia dapatkan adalah bagaimana daerah-daerah di Kepri misalnya yang membukukan sejarah Melayu menurut versi mereka. Sejarah Melayu yang ia dapat melalui buku di Malaysia juga demikian. Penulis buku menulis menurut versinya masing-masing.

Perburuan terhadap naskah-naskah yang dibutuhkan itu dilakukan di Kepulauan Riau, Riau, Malaysia, Singapura dan negara lainnya. Tujuan Dahlan tak lain adalah ingin membuat sebuah referensi yang kuat kepada orang Melayu bahkan orang luar sekalipun yang ingin tahu tentang sejarah Melayu lewat karya yang dibuatnya itu.

Karena sibuk mengurus pemerintahan Kota Batam sebagai seorang walikota juga seorang mahasiswa S3 di University of Malaya, Malaysia, Dahlan mengakui ikut menggandeng sejumlah orang yakni sejarawan Melayu Aswandi Syahri dan budayawan Melayu Samson Rambah Pasir. Ketiganya terlibat dalam diskusi-diskusi kecil namun hangat untuk menyatukan dokumen-dokumen yang berserak tadi menjadi suatu data yang utuh dan valid.

“Saya kira kita perlu membuat sebuah referensi kepada orang Melayu dan masyarakat umum untuk tidak lagi mencari-cari sumber tentang sejarah seperti tentang Pulau Penyengat dan sebagainya. Sebab di dalam buku ini sudah lengkap,” kata lulusan program Lemhanas, Jakarta tersebut.

Dahlan mengaku tidak mudah untuk merampungkan buku dengan sampul Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat tersebut. Karena selain referensi yang kurang, ia juga sibuk mengurus pemerintahan dan sekolah.

Awal tulisannya ia lakukan di salah satu masjid di Lingga. Saat itu Dahlan menghadiri acara STQ tingkat Provinsi Kepri di Kabupaten Lingga. Ia berkesempatan menjajal sejumlah tempat, dokumen bahkan benda-benda bersejarah di pusat Kesultanan Lingga tersebut.

Sebuah laptop yang dibawanya kemudian dimanfaatkan untuk menulis apa yang didapatnya di Lingga.

“Sekitar tujuh halaman saya buat di Lingga. Beratlah untuk merampungkan buku ini. Untung saya dibantu oleh Aswandi yang banyak memiliki sumber kemudian Samson Rambah Pasir dan Febrian,” katanya.

Setelah dari Lingga, Dahlan mengikuti studi Ilmu Pemerintahan di Harvard University, Boston Amerka Serikat tahun 2013. Dia kota kecil Cambridge, bagian dari Boston (negara bagian Massachusetts) itu ia tidak menyia-nyiakan waktu luangnya untuk terus menulis beberapa bab bukunya.

“Saya di Harvard selama dua bulan dan selama sekolah di sana tidak ada PR. Hanya dengar dan debat pemaparan pemateri. Jadi saya pakai waktu di Harvard itu untuk menulis juga. Bahkan sebanyak 7 bab dapat ditulis di Harvard, Amerika,” ujar mantan Humas Otorita Batam (BP Batam, red) ini.

Menurut Dahlan, suasana kampus yang luas dan teduh sangat nyaman untuk menulis, apalagi saat itu menjelang musim dingin di tahun 2013.

“Alhamdulilah waktu cukup banyak yang tersedia untuk menulis,” ujarnya.

Untuk merampungkan buku setebal 665 halaman itu, Dahlan mengaku harus membaca sekitar 90-an buah buku serta artikel. Rata-rata satu halaman tulisannya membutuhkan buku referensi sebanyak 15 buah yang didapatnya dari berbagai tempat termasuk Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Niatan Dahlan menulis buku Sejarah Melayu ini juga berawal dari kecemasannya terhadap generasi mendatang orang Melayu yang tidak tahu sejarahnya.

”Padahal saya lihat ini empire sebenarnya,” katanya. (WILLIAM SEIPATTIRATU, BP)